Aroma Rasa chapter 1

Chapter I | Dapur Kecil Tempat Aku Berani Menjadi Diri Sendiri

AROMA RASA

2/5/20262 min read

Ada sebuah dapur kecil di rumah masa kecilku yang tidak pernah benar-benar aku tinggalkan — meskipun kakiku sudah lama melangkah pergi. Dindingnya berwarna kuning pucat, warna yang sudah memudar sejak aku masih setinggi kompor gas dua tungku yang berdiri di sudut. Ubin lantainya retak di beberapa sudut, dan kalau kamu injak yang tepat di dekat bak cuci piring, ia akan mengeluarkan bunyi kecil — seperti bisikan. Aku hafal setiap bunyinya.

Namaku Arga Tama Putra. Waktu kecil, orang-orang memanggilku Arga. Teman-teman sekolah kadang memanggilku dengan nama yang lain — yang tidak terlalu kusukai — tapi di dalam dapur itu, di hadapan ibuku, aku tidak punya nama lain selain Arga. Dan Arga, di dapur itu, adalah orang yang paling bebas di dunia.

"Di luar dapur itu, aku adalah anak yang terlalu diam untuk dilihat — tapi di dalamnya, aku adalah satu-satunya penonton pertunjukan terhangat yang pernah ada."

— Arga Tama Putra

Aku bukan anak yang mudah berkata-kata. Di sekolah, aku lebih banyak duduk di pojok kelas — bukan karena dihukum, melainkan karena aku memang lebih suka pojok. Di sana, tidak ada yang terlalu memperhatikanmu. Tidak ada yang mengajakmu presentasi mendadak, atau menunjukmu untuk menjawab soal yang kamu sendiri tidak yakin jawabannya. Di pojok, kamu bisa jadi bayangan. Dan aku pandai sekali menjadi bayangan.

Guru-guruku mungkin punya catatan yang sama setiap tahun:

Aku tidak pernah membantah catatan itu. Mereka tidak salah. Tapi mereka juga tidak tahu bahwa di rumah — tepatnya di dapur kecil itu — aku bisa berbicara berjam-jam tanpa henti.

Karena di sana ada Ibu.

"Arga adalah anak yang pintar, tapi terlalu pendiam. Perlu lebih aktif berpartisipasi.

woman in white and brown dress standing on green grass during night time
woman in white and brown dress standing on green grass during night time

Kayu manis yang terbakar pelan. Bawang merah yang ditumis hingga keemasan. Santan yang mendidih perlahan seperti seseorang sedang berbisik. Itulah bahasa pertama yang kukenal —

bahasa dapur, bahasa Ibu.

Hai para pembaca! Pertama-tama kami ingin mengucapkan terimakasih kepada kalian semua yang yang telah menginspirasi kami untuk terus membuat sesuatu di website ini, cerita ini masih dalam proses pengembangan dan setiap kamis malam akan kami perbarui, semoga kalian bisa lebih dekat dengan kami lewat cerita-cerita yang kami bangun

________________________________________________

Whatsapp : +62 858-3075-3692

© 2025. All rights reserved.

Cup of Journey

Sabang, Aceh, Indonesia

Since 2022